saia “Kembali”……

“setelah lahir prematur di salah satu kampus swasta di Jogja, sampai saia menjadi “kuli” di pelabuhan makassar ini. pada bulan september tepatnya, hari yang paling dramatis dari cerita akademik yang sekian lama ku nikmati baik susah,sedih, gembira dan lain sebagainya.”

sekian lama sudah tidak posting something, karena kesibukan sekarang ini. maklumlah, sekarang sudah mulai fokus pada kewajiban sebagai “kuli” yang mengharuskan menyelesaikan module2 dalam project yang memusingkan….

setelah lahir prematur di salah satu kampus swasta di Jogja, sampai saia menjadi “kuli” di pelabuhan makassar ini. pada bulan september tepatnya, hari yang paling dramatis dari cerita akademik yang sekian lama ku nikmati baik susah,sedih, gembira dan lain sebagainya. berjuang bersama, berbagi bersama dengan para “keluarga” kecil di ruangan sempit samping Masjid Kampus. banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang saia dapat dari kampus tercinta ini, terlebih bersama dengan para keluarga di HMJ.

dengan kesibukkan menyelesaikan kewajiban sebagai mahasiswa, yaitu, menyelesaikan tugas akhir. dengan tugas akhir yang jelimet tersebut masih sempat-sempat ikutan membantu di ke panitiaan acara ETI, menjadi salah satu pemain kunci di kepanitiaan. setelah ETI selesai, Proposal IKPMD mulai di bereskan, dengan proposal yang di susun secara systematik agar dibaca dengan mudah oleh PEMDA nantinya. dengan kata-kata puitis ala ivan di dalamnya membuat Proposal yang ku susun tersebut sekiranya menjadi wah menurut diriku. handle 2 kerjaan besar sebagai konsekuensi menjadi seorang mahasiswa dan seorang ujung tombak IKPM. 2 buah naskah, naskah Tugas Akhir, dan naskah Proposal beriringan ku rampungin, waktu itu adalah minggu-minggu dimana seakan bola dunia berada tepat diatas kepala saia. ujung-ujungnya nyusun stategi, intuisi dan reflek yang tinggi mebuat jaringan dalam otak kiri maupun otak kanan di dalam kepalaku ini berkeja dengan derasNya. ada beberapa sekenario saat itu, tapi dengan sedikit analisis yang matang dan mantap, akhirnya skenario yang ku ambil dan menanggung konsekuensinya adalah tetap fight. ketika Naskah Skripsi selesai saia putuskan untuk pulang kampung untuk mengurus Proposal IKPM, karena delay Jadwal Pendadaran keluar setelah Naskah diKumpul ke Bagian Akademik lumayan lama ada 3 hari, sedikit teknik dan strategis lagi, agar genap seminggu untuk menunggu Jadwal Pendadaran, saia sampaikan pada Petugas Pengajaran dalam hal ini Petugas yang di Bagian Akademik, untuk menambah masa delay sampai seminggu dengan alasan saia ada urusan hingga harus keluar kota. dengan senangnya hati ini, petugas tersebut menganggug dengan pasti meng”approval” permintaan saia, akhirnya saya punya waktu seminggu untuk menyelesaikan Pengajuan Proposal ke PEMDA. masalah kuliah lainya, dengn surat ber”Kop” IKPMD dengan mudahnya saia buat agar mendapatkan izin untuk tidak masuk kuliah selama seminggu, karena tanpa surat dan keterangan sama sekali nanti saia ga bisa masuk ujian Akhir karena kebanyakan Alpa. yang anehnya di surat ini, saia yang buat, saia yang tanda tangan, plus dengan stempel IKPM, tapi ada tanda tangan anak buah saya juga, yaitu penanggung jawab asrama.

dengan persiapan yang matang, tiketpun sudah ditangan, SUB-AMI, AMI-SUB rutenya. waktunya untuk “mengemis” pada para pejabat. kerjaan yang sangat saya benci, harus menjilat kepada para pelaku-pelaku kegiatan yang membuat mereka menjadi rendah di mata PendudukNya sendiri. ini bukan rahasia umum lagi di tubuh pemerintah, suap menyuap menjadi kebiasaan, dan kebanyakan pelakunya bertindak secara naruliah sebagai orang yang menganggap duit segala-galanya, menjadikan harta kiblatnya, karena hati mereka sudah hitam pekat dengan pengaruh kehidupan seperti sekarang ini. bahkan banyak orang-orang terdekat saya sendiri. itulah salah satu alasan mengapa saia berada disini sekarang ini. dengan beribu alasanya dan kamuflasenya kepada public untuk menepis semua isu, tapi di satu sisi ada niat baik dari pada para pejabat ini, namun demikian, terkadang sesuatu yang buruk biasanya berawal dari niat baik. saya bisa saja kembali dan langsung dapat “posisi” disuatu departemen di sana, tapi hati kecil saya merintih karena saya merasa “hidup ini gampang sekali” dan yang paling saya tidak suka adalah kegiatan lobi-melobi dan suap-menyuap untuk mendapatkan sebuah posisi, apalagi sampai membelinya. mungkin terlalu banyak dosa saya, jadi nggak mau nambah dosa lagi, ya, saia sadar itu,…. šŸ™‚

sesampainya di asal kelahiranku itu, bertemu keluarga lagi sangat senang sekali, tapi tidak ada Sahabat tercinta yang nemanin, karena belum pada pulang liburan, biasanya kumpul saat liburan lebaran tiba. selain itu ada beberapa orang yang perlu saya temui, Anggota Dewan yang mengunjungi asrama beberapa bulan yang lalu, dan Asisten 3, tidak lain adalah tetangga saya sendiri. saya telepon ke nomor yang beliau berikan beberapa waktu lalu saat di jogja. dengan sangat kecewa saya, karena saya lempar ke Bagian Umum kantor PEMDA, samapai di bagian Umum saya dilempar lagi, seperti bola pimpong saja ujarku dalam hati dengan kesal yang sangat tentunya. bapak Asisten 3 ini janjinya di jogja “langsung ketemu saya klo sudah di dompu nanti” nah, saya sudah di dompu malah dicuekin, melihat batang hidungnya saja tidak. tipikal pejabat sekarang ini memang demikian, padahal tetangga sendiri, ato beliau tidak kenal ya. disini saya sangat tau betul bagaimana realita yg sebenarnya, bagaimana cara para pelaku birokrasi ini meraup keuntungan. dan ini menjadi pengalam pribadi yang membuat saia termotifasi untuk berbuat baik, karena sekarang ini kayaknya orang baik sudah jarang…. šŸ™‚

di bagian umum sesuai arahan pak asisten 3, dan masih kecewa tentunya, saya bertemu dengan yang namanya OM Wan, kepala Bagian Umum, dari sini saya dilempar ke Bagian Protokol, dengan ramahnya (saya pikir ini kamuflase semata) menyambut saya yang jauh2 dari jogja. proposal ternyata tidak serta-merta langsung terealisasi, ada proses lagi di dalamnya. dan saya akhirnya pulang hingga di jogja dengan tangan kosong, dan samapai saat ini, saya tidak pernah melihat lagi yang namanya Asisten 3 meski gampang saja saya mengunjungi rumah putih di samping gunung kecil dekat rumah saia itu. saya orangnya profesional, karena saya tidak mau ada loby-meloby, suap-menyuap dan lain sebagainnya, karena idealisme saya saat itu cukup tinggi sebagai mahasiswa.

di jogaja, jadwal Pendadaran sudah ku ketahui berkat rekan2 di jogja yang mengabarkan via pesan singkat, waktunya hanya 2 hari sepulang dari tempat kelahiranku untuk mengemis demi kelangsungan hidup IKPM.

Pendadaran, hari dimana sebuah karya tulis ilmiahku di sidangkan dan di uji di depan dosen penguji dan dosen pembimbing, waktu itu saya membawakan dan menulis tidak jauh-jauh dari yang namanya Java Programming, nah dari sini dimulainnya cerita seru, cerita seru yang menantang jiwa dan raga diriku. didepan 3 dosen, Pak Totok Suprawoto selaku dosen Uji yang juga kebetulan sebagai dosen wali saat pembagian dosen wali ketika pertama kali terdaftar di kampus ini, Pak Cuk Subiantoro sebagai dosen uji 2, dan yang terakhir adalah dosen Pembimbingku, pak Bangbang PDP. karena sering dan sudah terbiasa berbicara depan papan saat presentasi di depan kelas saat matakuliah (mata kuliah Pak Totok Suprawoto, pak Bambang, dan Pak CUk juga pernah dapat presentasi) dan ditambah lagi jikalau tampil di depan teman2 HMJ TI ketika ada acara atau rapat, semakin pede aja ane…. šŸ™‚ sedikit berdebat bersama pak Cuk saat itu, yang pemikirannya masih sangat prosedural sedangkan saat itu diriku dengan pemikiran Object Oriented. pak Totok memberikan masukan-masukan dan saran hingga karyatulis ini sempurna, sedangkan pak Bambang, dosen pembimbing saya malah menyantap hidangan yang disediakan sambil mendengar saya mengoceh sendirian persis didepan papan tulis putih beserta alat display di ruang pendadaran lantai 3 gedung utara kampus. 45 menit saya dalam ruangan itu, dan akhirnya keluar karena bapak-bapak dosen didalam waktunya memberikan penilaian dari hasil karya tulisku ini. ada 3 kriteria dalam hal ini, yaitu lulus, lulus dengan syarat, dan tidak lulus tapi dapat mengulang pendadaran. setelah pak totok membacakan kriteria tersebut sesaat setelah saya kembali masuk ruangan lagi, dan hasilnya saya lulus dengan syarat Naskah yang dibuat diperbaharui dan disempurnakan. alhamdulillah kataku dalam hati yang semalamnya nggak bisa tidur karena memikirkan saat-saat tegang seperti ini, saat dimana menentukan “disepak” dari kampus atau memilih jadi donatur tetap di kampus.

dan akhirnya, bermula dari karyatulis di kampus, saya direkomendasikan oleh sahabat yang pernah menjadi rekan kerja saat kegiatann JDHA di HMJTI untuk berjuang bersama, di makassar, di mana project dikerjakan. dan sebuah alasan pasti mengapa saya menerima tawaran tersebut adalah mencari tau “who am i?”.Ā  sedangkan dengan berat hati IKPMD saya tinggalkan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

dan dari sini, mencoba lagi untuk lebih seringkali menulis minimal 1 minggu sekali. tunggu tulisan sebelumnya yach…. šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s